
Oleh: Fajar alamin
Kabul – Pemerintah Taliban di Afghanistan mulai membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas dengan Amerika Serikat (AS). Menteri Luar Negeri Taliban, Amir Khan Muttaqi, menyatakan Afghanistan terbuka terhadap investasi perusahaan-perusahaan AS di sejumlah sektor strategis, termasuk pertambangan, infrastruktur, pertanian, dan perdagangan.
Langkah tersebut mencuat di tengah upaya Taliban memperluas hubungan ekonomi dan diplomatik dengan negara-negara lain setelah kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah kekayaan mineral Afghanistan yang diperkirakan memiliki nilai mencapai US$ 1 triliun atau sekitar Rp 17.732 triliun.
Muttaqi mengatakan hubungan antara Afghanistan dan Amerika Serikat seharusnya tidak lagi hanya dilihat dari sejarah konflik selama dua dekade terakhir. Menurutnya, kedua negara perlu melihat peluang kerja sama yang dapat dibangun untuk masa depan.
Afghanistan diketahui memiliki berbagai sumber daya mineral, mulai dari tembaga, bijih besi, litium, kobalt, logam tanah jarang, emas, kromit, hingga batu permata. Sejumlah mineral tersebut juga masuk dalam kategori mineral kritis yang memiliki peranan penting bagi industri teknologi, baterai kendaraan listrik, dan sektor pertahanan.
Kekayaan Mineral Jadi Daya Tarik Investasi
Potensi sumber daya mineral Afghanistan telah lama menjadi perhatian. Penilaian berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS pada 2009 memperkirakan nilai sumber daya mineral Afghanistan yang belum dimanfaatkan setidaknya mencapai US$ 1 triliun.
Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, pemerintah Afghanistan telah mengumumkan kontrak pertambangan dengan nilai lebih dari US$ 7 miliar. Sebagian besar kerja sama tersebut melibatkan perusahaan dari negara seperti China dan Iran.
Dengan membuka peluang investasi kepada perusahaan AS, Taliban berusaha memperluas sumber investasi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah negara yang selama ini lebih aktif menjalin hubungan ekonomi dengan Afghanistan.
Namun, potensi ekonomi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan. Afghanistan tetap menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Sekitar sepertiga penduduknya menghadapi kondisi kelaparan akut, sementara pembatasan terhadap hak-hak perempuan dan anak perempuan juga masih menjadi sorotan internasional.
Taliban Dorong Hubungan Lebih Dekat dengan AS
Selain menawarkan peluang investasi, Taliban juga mendorong Amerika Serikat untuk membuka kembali kedutaan besarnya di Kabul yang ditinggalkan setelah pemerintahan Afghanistan runtuh pada 2021.
Muttaqi menyebut Taliban telah berupaya menjamin keamanan kawasan kedutaan dan melakukan berbagai perbaikan di sekitarnya. Ia berharap langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih baik dengan Washington.
Meski demikian, Amerika Serikat sejauh ini belum menunjukkan langkah menuju hubungan yang lebih erat dengan pemerintahan Taliban. Isu hak asasi manusia, terutama kondisi perempuan dan anak perempuan di Afghanistan, masih menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan Taliban dengan komunitas internasional.
Para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya juga memperingatkan agar tidak terjadi normalisasi terhadap pemerintahan de facto Taliban tanpa adanya kemajuan yang nyata dan terukur terkait standar hak asasi manusia.
Kekayaan Alam di Tengah Tekanan Ekonomi
Upaya Taliban menawarkan sektor mineral kepada investor AS memperlihatkan bagaimana kekayaan alam Afghanistan dapat menjadi instrumen penting dalam membuka peluang ekonomi dan hubungan internasional.
Di sisi lain, realisasi investasi berskala besar tetap bergantung pada sejumlah faktor, termasuk kondisi keamanan, kepastian hukum, sanksi internasional, serta hubungan diplomatik dengan negara-negara lain.
Jika kerja sama tersebut benar-benar terealisasi, sektor pertambangan berpotensi menjadi salah satu sumber pemasukan penting bagi Afghanistan. Namun, pengelolaan sumber daya alam juga membutuhkan tata kelola yang transparan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Untuk saat ini, tawaran Taliban kepada Amerika Serikat masih menjadi bagian dari upaya membuka jalur kerja sama ekonomi baru. Potensi kekayaan mineral hingga Rp 17.732 triliun membuat Afghanistan memiliki aset strategis yang dapat menarik perhatian investor global, tetapi realisasinya akan sangat bergantung pada perkembangan politik, diplomasi, dan kondisi sosial di negara tersebut.