Penulis: Fajar alamin
Jakarta – Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan signifikan setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak global, khususnya yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 3 persen hingga berada di kisaran US$78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat ke level sekitar US$73 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah kedua negara kembali terlibat aksi militer yang meningkatkan ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pelaku pasar menilai meningkatnya tensi AS-Iran berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap arus pengiriman minyak diperkirakan dapat memicu tekanan terhadap pasokan global, sehingga mendorong harga energi terus bergerak naik.
Sejumlah analis energi menyebut lonjakan harga saat ini masih didorong oleh sentimen geopolitik. Meski pasokan minyak global belum mengalami gangguan besar secara langsung, pasar tetap memberikan premi risiko sebagai antisipasi apabila konflik berkembang menjadi lebih luas. Kondisi tersebut membuat volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian berbagai negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Jika tren kenaikan berlangsung dalam jangka panjang, biaya impor minyak berpotensi meningkat dan dapat memberikan tekanan terhadap inflasi, biaya logistik, serta sektor industri yang bergantung pada bahan bakar fosil.
Di sisi lain, pelaku industri energi berharap upaya diplomasi antara berbagai pihak dapat segera meredakan ketegangan sehingga stabilitas pasokan minyak dunia tetap terjaga. Pasar juga terus mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan harga minyak dalam waktu dekat.