California – Sudah menjadi rahasia umum bahwa perilisan game Grand Theft Auto (GTA) garapan Rockstar Games selalu menjadi fenomena budaya global. Namun kali ini, antisipasi terhadap GTA VI benar-benar berhasil melumpuhkan aktivitas bisnis di dunia nyata.
Salah satunya yaitu sebuah perusahaan manufaktur komponen otomotif terkemuka asal California, Burger Motorsports, mendadak viral di media sosial setelah mengambil keputusan ekstrem: menghentikan seluruh operasional perusahaan selama satu hari penuh tepat di hari perilisan GTA VI.
Kalah Suara oleh Gelombang Cuti Karyawan
Penutupan massal ini dijadwalkan akan berlangsung pada hari Kamis, 19 November 2026, yang bertepatan dengan tanggal peluncuran game GTA VI. Berdasarkan dokumen internal tersebut, langkah ini diambil setelah manajemen meninjau adanya konflik penjadwalan kerja yang masif akibat banyaknya karyawan yang mengajukan izin.
Alih-alih menolak permohonan tersebut atau memaksakan produktivitas yang pincang dengan sisa staf yang ada, manajemen Burger Motorsports memilih bersikap realistis menghadapi antusiasme pekerjanya yang tidak terbendung. Dalam memonya, manajemen menuliskan surat pemberitahuannya dibawah ini :

(Sumber : burger_tuning)
Syarat Unik untuk Kembali Bekerja
Tidak hanya meliburkan staf secara cuma-cuma, pihak manajemen Burger Motorsports juga menyisipkan syarat mengenai kapan seluruh karyawan diwajibkan kembali ke meja kerja untuk mengembalikan performa bisnis seperti sedia kala.
“Operasional bisnis normal diharapkan akan kembali berjalan setelah para karyawan menyelesaikan eksplorasi awal mereka, menyelesaikan setidaknya satu misi di dalam game, dan kembali ke realitas.”
Di akhir memo, manajemen menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pelanggan setia, dealer, dan mitra bisnis atas kesabaran dan pengertian mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai “unprecedented cultural event” atau peristiwa budaya yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Langkah yang diambil oleh Burger Motorsports ini dinilai sebagai strategi cerdas dalam menjaga hubungan baik serta kesehatan mental para pekerjanya. Memaksa karyawan bekerja di hari penting seperti itu justru berisiko memicu tingginya angka izin sakit palsu serta merusak fokus kerja. Fenomena ini diprediksi hanyalah awal dari gelombang besar “libur massal” serupa yang akan diadopsi oleh berbagai perusahaan global lainnya menjelang November 2026.