BOGOR – Di tengah pesatnya arus digitalisasi ekonomi, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perikanan sering kali menjadi sektor yang paling akhir tersentuh teknologi modern. Salah satu contoh nyata terlihat pada aktivitas budidaya bibit lele milik Muhammad Supron di kawasan Tenjo, Kabupaten Bogor. Selama ini, Muhammad Supron selaku owner beserta para pengelola kolam setempat masih mengandalkan sistem pembukuan fisik konvensional serta pemasaran dari mulut ke mulut untuk menjalankan roda bisnis harian mereka.
Ketergantungan pada pencatatan manual di atas kertas ini bukan tanpa masalah. Pihak pengelola kerap kali dipusingkan oleh risiko hilangnya data nota penjualan, rekapitulasi modal pakan ikan yang rentan selisih, hingga kacaunya penentuan harga jual benih. Masalah semakin pelik ketika calon pembeli dari luar kota kesulitan mendapatkan informasi valid mengenai sisa stok ukuran bibit lele yang siap tebar di kolam.
Melihat celah masalah tersebut, sebuah inovasi teknologi hadir membawa solusi segar. Melalui proyek rancang bangun perangkat lunak yang diinisiasi oleh Rehan Bersama Asyid Nabilul Azhar, mahasiswa program studi Teknik Informatika dari Universitas Pamulang (UNPAM), kini telah dikembangkan sebuah sistem e-commerce modern yang terintegrasi langsung dengan Dynamic Content Management System (CMS) serta aplikasi kasir internal. Aplikasi berbasis web ini didesain khusus oleh Rehan dan Asyid untuk mendongkrak efisiensi operasional harian usaha Muhammad Supron, sekaligus mengubah total cara pembeli dalam bertransaksi benih lele secara daring.
1. Investigasi Lapangan, Menelusuri Akar Masalah Langsung dari Sumbernya
Untuk mematangkan rancangan aplikasi, proses analisis kebutuhan dilakukan dengan terjun langsung ke lokasi budidaya di Tenjo, Kabupaten Bogor. Berdasarkan dokumentasi wawancara dan perbincangan mendalam dengan pemilik usaha, terungkap bahwa kendala terbesar di lapangan adalah fluktuasi harga dan pencatatan operasional yang tidak terdokumentasi dengan baik.

Pemilik usaha mengeluhkan betapa seringnya terjadi salah paham dengan pembeli mengenai keseragaman ukuran bibit. Melalui foto dokumentasi komoditas bibit ikan lele yang dikumpulkan, terlihat jelas bahwa setiap rentang milimeter pertumbuhan ikan memegang nilai ekonomi yang berbeda. Jika pencatatan stok kolam terpal masih menggunakan papan tulis manual, pengelola akan kesulitan memantau sisa ribuan ekor benih yang siap panen secara real-time.
2. Bedah Fitur, Dari Poster Otomatis hingga Kalkulator Ukuran Presisi
Menjawab tantangan tersebut, sistem e-commerce ini dirombak total dengan mengusung tema visual Ocean Blue yang modern dan interaktif. Halaman depan pengunjung kini difokuskan sebagai media promosi digital yang atraktif. Admin tidak perlu lagi mengubah kode program untuk mengganti konten visual; sebuah panel Content Management System (CMS) telah disiapkan agar pengelola bisa mengunggah foto kolam, memperbarui gambar latar belakang pemanis, hingga memasukkan testimoni pembeli secara mandiri.

Branding yang kuat juga ditunjukkan dengan integrasi logo resmi pada kop nota belanja fisik. Fitur unggulan dari sisi pengunjung terletak pada keakuratan kalkulator keranjang belanja. Menggunakan logika JavaScript yang responsif, sistem secara otomatis mengunci harga satuan berdasarkan angka depan dari ukuran bibit yang dipilih konsumen:
• Ukuran 4 cm s.d 5 cm dikunci pada harga Rp 200 / ekor
• Ukuran 6 cm dikunci pada harga Rp 250 / ekor
• Ukuran 7 cm s.d 8 cm dikunci pada harga Rp 300 / ekor
• Ukuran 9 cm dikunci pada harga Rp 350 / ekor
• Ukuran 10 cm dikunci pada harga Rp 400 / ekor
3. Proteksi Skala Grosir Otomatis Terhubung WhatsApp Owner
Keunikan lain yang diangkat dalam sistem e-commerce ini adalah penanganan khusus untuk pembeli skala besar (tengkulak). Jika seorang konsumen memasukkan jumlah pesanan mencapai atau melebihi 10.000 ekor di dalam keranjang, sistem pintar ini akan otomatis mengaktifkan fitur proteksi grosir.
Teks nominal harga normal akan disembunyikan dan digantikan oleh tulisan “Hubungi Owner”. Form pengisian alamat pengiriman pun akan disembunyikan untuk memangkas birokrasi, digantikan dengan tombol hijau interaktif yang langsung mengalihkan konsumen ke API WhatsApp milik pemilik usaha lengkap dengan draf pesan penawaran harga nego yang rapi.
4. Dampak Nyata Digitalisasi bagi Pengelola dan Konsumen
Kehadiran sistem informasi e-commerce berbasis Dynamic CMS ini terbukti membawa perubahan signifikan pada efisiensi operasional harian mitra budidaya bibit lele di Tenjo.
Dari sisi internal, pemilik usaha kini memiliki kendali penuh dan transparansi mutlak atas data keuangan kas masuk operasional, rekapitulasi mutasi stok kolam, hingga pembatasan hak akses yang aman bagi para karyawan kolam melalui fitur Session Guard.
Tidak ada lagi drama kehilangan nota atau salah hitung modal pakan harian yang sering kali menguras energi pengelola. Di sisi lain, para pelanggan dan tengkulak kini disuguhkan pengalaman bertransaksi yang jauh lebih modern, terbuka, dan interaktif langsung dari gawai (gadget) mereka masing-masing.
5. Harapan Masa Depan UMKM Perikanan
Dengan rampungnya proyek rancang bangun sistem ini, UMKM budidaya bibit lele di Tenjo telah sukses meletakkan batu pertama dalam proses transformasi digital sektor perikanan lokal. Langkah ini membuktikan bahwa keterbatasan teknis di area pedesaan bukan lagi menjadi penghalang besar bagi sebuah bisnis lokal untuk tampil profesional dan bersaing di pasar digital yang lebih luas.
“Modernisasi ini bukan sekadar tentang beralih dari kertas ke layar komputer, melainkan tentang bagaimana kita membangun ekosistem bisnis budidaya yang lebih sehat, teratur, dan tepercaya bagi para mitra pembeli harian,” pungkas Rehan, mahasiswa Informatika Engineering selaku pengembang sistem utama dalam proyek inovatif ini.