Wamenkomdigi Nezar Patria memberikan sambutan dalam acara Launching FE ke-14 Festival Egrang Tanoker Ledokombo, Pasar Lumpur, Jember, Sabtu (09/05/2026). Foto: Ahmad Tri Hawaari/Komdigi
JEMBER — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai permainan tradisional egrang semakin relevan di tengah tingginya aktivitas anak-anak di ruang digital. Menurutnya, permainan fisik seperti egrang dapat menjadi sarana untuk membantu anak menjaga keseimbangan emosional, interaksi sosial, hingga kesehatan mental.
Hal itu disampaikan Nezar saat menghadiri peluncuran Festival Egrang ke-14 di Ledokombo, Jember, Jawa Timur, Sabtu (9/5/2026).
“Permainan egrang bisa menjadi tombol jeda dari intensitas tinggi kehidupan digital. Anak-anak belajar tentang keseimbangan, kerja sama, hingga gotong royong melalui permainan fisik seperti ini,” ujar Nezar.
Ia mengatakan perkembangan teknologi digital memang membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru bagi anak-anak. Saat ini, penetrasi internet di Indonesia disebut telah mencapai lebih dari 80 persen populasi, dengan ratusan juta masyarakat sudah terhubung ke internet.
Menurut Nezar, kondisi tersebut membuat masyarakat tidak lagi sekadar menggunakan teknologi, tetapi juga hidup di dalam ekosistem digital. Akibatnya, sejumlah permainan tradisional mulai tergeser oleh aktivitas digital.
“Egrang menjadi salah satu permainan yang masih bertahan karena dijaga bersama oleh komunitas,” katanya.
Nezar menegaskan pelindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya melalui regulasi platform digital. Ia menilai diperlukan dukungan lingkungan sosial yang sehat, termasuk peran keluarga dan komunitas.
Ia pun menyinggung implementasi PP TUNAS yang menurutnya harus berjalan beriringan dengan penguatan interaksi sosial anak di dunia nyata.
“Bermain egrang bukan sekadar permainan tradisional. Anak-anak belajar menjaga keseimbangan, bekerja sama, dan membangun keberanian lewat pengalaman langsung,” tuturnya.
Selain itu, permainan tradisional juga dinilai memiliki nilai pendidikan karakter. Dalam permainan egrang, anak-anak belajar bangkit ketika terjatuh dan saling memberi dukungan.
“Jatuh lalu bangun lagi menjadi pelajaran penting untuk membentuk karakter dan kepribadian anak sejak dini,” ujar Nezar.
Kementerian Komunikasi dan Digital mengapresiasi penyelenggaraan Festival Egrang Ledokombo sebagai ruang budaya sekaligus sosial yang dinilai mampu membantu anak-anak tumbuh sehat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Nezar berharap anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki kekuatan emosional dan sosial untuk menghadapi masa depan.