
Tangerang – Perkembangan teknologi digital yang terus bergerak cepat telah mengubah cara masyarakat mengakses dan menyebarkan informasi. Berita kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital. Kemudahan ini membawa dampak positif, namun sekaligus menghadirkan tantangan serius berupa meningkatnya penyebaran berita bohong atau hoaks di tengah masyarakat.
Di tengah arus informasi yang begitu deras, literasi digital menjadi kemampuan yang tidak bisa diabaikan. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga menyangkut kecakapan dalam memilah informasi, berpikir kritis, serta memahami etika dalam ruang digital. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat berisiko menerima dan menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Fenomena penyebaran hoaks sering kali terjadi karena kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat tanpa melakukan pengecekan sumber. Informasi yang diterima di media sosial kerap langsung dipercaya dan dibagikan kembali, meskipun kebenarannya belum dapat dipastikan. Kondisi ini dapat memicu kesalahpahaman, keresahan sosial, bahkan berdampak pada kerugian di berbagai sektor.
Selain persoalan hoaks, literasi digital juga berkaitan erat dengan keamanan data pribadi. Masih banyak pengguna yang belum menyadari pentingnya menjaga informasi pribadi di ruang digital. Kebiasaan membagikan data secara sembarangan dapat membuka peluang terjadinya penyalahgunaan data oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Melalui peningkatan literasi digital, masyarakat diharapkan mampu menjadi pengguna teknologi yang lebih cermat dan bertanggung jawab. Tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga memahami, menyaring, dan menyikapinya secara bijak. Upaya ini membutuhkan peran bersama antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat agar ruang digital dapat dimanfaatkan secara positif dan aman bagi semua pihak
Penulis: Alya Nurul Hasanah