Muhammad Farhan Harahap – Universitas Pamulang
Era begadang semalaman hanya demi mencari satu kesalahan tanda baca dalam ribuan baris kode mungkin sebentar lagi akan berakhir. Bagi mahasiswa Teknik Informatika, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif seperti ChatGPT hingga GitHub Copilot adalah revolusi besar yang mengubah aturan main di dunia perkuliahan
Fenomena ini memicu perdebatan sengit di lorong-lorong kampus: Apakah AI adalah sahabat terbaik mahasiswa, atau justru racun yang mematikan kemampuan berpikir kritis?
Harus diakui, AI menawarkan efisiensi yang luar biasa. Pekerjaan membuat kerangka kode (boilerplate) yang dulu memakan waktu, kini bisa selesai dalam hitungan detik.
Seorang mahasiswa tingkat akhir mengaku sangat terbantu dengan teknologi ini. “AI itu seperti punya asisten lab yang sabar. Kalau ada error, dia tidak hanya kasih solusi, tapi juga menjelaskan kenapa error itu terjadi. Belajar jadi jauh lebih cepat daripada harus browsing forum satu per satu,” ungkapnya.
Namun, kemudahan ini datang dengan harga yang mahal. Para dosen mulai mengkhawatirkan munculnya mentalitas “terima beres”. Mahasiswa bisa saja mengumpulkan tugas pemrograman yang sempurna tanpa benar-benar paham logika di balik kode tersebut.
Ketergantungan berlebihan pada AI berisiko menumpulkan kemampuan problem solving. Padahal, inti dari ilmu Informatika bukanlah sekadar mengetik kode, melainkan melatih otak untuk berpikir sistematis dalam memecahkan masalah. Jika semua diserahkan pada robot, kemampuan fundamental ini bisa hilang.
Lalu, bagaimana nasib mahasiswa IT ke depannya? Alih-alih merasa terancam, mahasiswa harus beradaptasi.

Peran lulusan IT kini bergeser. Industri tidak lagi sekadar mencari “tukang coding“, melainkan arsitek sistem yang mampu mengawasi dan memvalidasi pekerjaan AI. Kemampuan membaca kode dan memahami arsitektur menjadi jauh lebih penting daripada sekadar menghafal sintaks.
Kesimpulannya, AI adalah pedang bermata dua. Jika digunakan sebagai satu-satunya tumpuan, ia akan mematikan nalar. Namun jika digunakan sebagai mitra diskusi (partner), AI justru akan melesatkan kemampuan mahasiswa ke level yang lebih tinggi.