Penulis: Lia Wildatus Sholihah
Di era digital, masyarakat tampak semakin sibuk. Notifikasi tidak pernah berhenti, rapat bisa dilakukan di mana saja, dan pekerjaan seolah tidak mengenal jam istirahat. Namun, kesibukan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas. Banyak individu merasa kelelahan secara mental, tetapi hasil kerja tidak menunjukkan peningkatan signifikan. Ini yang sering disebut sebagai pseudo-productivity yaitu terlihat sibuk, padahal output-nya biasa saja.
Dari sudut pandang ilmiah, produktivitas tidak hanya ditentukan oleh jumlah waktu kerja, tetapi oleh kualitas fokus dan manajemen energi. Studi dalam bidang ergonomi dan psikologi kerja menunjukkan bahwa multitasking justru menurunkan efisiensi kognitif. Sayangnya, budaya kerja kita sering mengagungkan kesibukan. Orang yang pulang paling malam dianggap paling berdedikasi, meskipun sebenarnya bisa jadi hanya kurang efisien. Sehingga sering muncul istilah, “capek iya, produktif belum tentu.”
Fenomena ini juga terjadi di kalangan mahasiswa. Jadwal padat, organisasi, tugas numpuk, tapi waktu untuk refleksi dan belajar mendalam justru minim. Padahal, produktivitas sejati adalah ketika seseorang mampu menghasilkan output berkualitas dengan proses yang terkontrol. Masyarakat perlu mulai menggeser paradigma dari sekadar “kerja keras” menjadi “kerja cerdas”, dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu, bukan sumber distraksi.
Kesibukan seperti ini erat berkaitan dengan budaya kerja dan struktur sosial modern. Masyarakat saat ini cenderung mengagungkan kesibukan sebagai simbol kesuksesan. Individu yang terlihat selalu sibuk dianggap produktif dan bernilai tinggi secara sosial. Ini menciptakan tekanan sosial untuk terus bekerja tanpa mempertimbangkan kesehatan mental. Dalam istilah sosiologi, ini adalah bentuk social pressure yang dibentuk oleh ekspektasi kolektif.
Produktivitas adalah faktor kunci dalam pertumbuhan ekonomi dan mentalitas masyarakat yang dapat memperbaiki kesejahteraan. Namun, produktivitas tidak selalu meningkat seiring dengan jam kerja yang panjang. Etos kerja yang baik tidak selalu tentang siapa yang kelihatan paling sibuk. Banyak penelitian menunjukkan bahwa produktivitas marginal tenaga kerja akan menurun ketika individu mengalami kelelahan. Artinya, bekerja lebih lama tidak selalu menghasilkan output yang lebih besar. Kalau dipaksakan, justru boros energi, waktu dan tidak efisien.
Relevansi pola kinerja yang tidak efisien mendorong konsumsi energi berlebihan, baik dari penggunaan listrik, transportasi, hingga perangkat digital. Budaya “selalu online” berkontribusi pada jejak karbon digital, sehingga produktivitas yang tidak sehat juga berdampak pada lingkaran sosial bahkan sering tidak disadari.
Produktivitas tenaga kerja merupakan kunci utama peningkatan kesejahteraan. Namun, banyak masyarakat yang masih terjebak pada pemahaman sempit tentang produktivitas yang identik dengan jam kerja panjang dan kesibukan ekstrem. Padahal, modernisasi sudah masuk ke berbagai lini yang kemudian lebih menekankan pada kualitas sumber daya manusia, bukan sekadar kuantitas kerja.
Dampak dari budaya kerja yang tidak sehat adalah meningkatnya stres, kelelahan, dan penurunan kualitas hidup masyarakat. Banyak individu memang terlihat “sibuk”, tetapi secara mental sudah kelelahan. Lingkungan sosial pun terdampak, karena interaksi keluarga dan masyarakat menjadi berkurang. Dalam bahasa sederhana, kerja jalan terus, tapi hidup jadi terasa hambar. Kondisi ini berpotensi menghambat pembangunan sumber daya manusia yang lebih baik.
Produktivitas yang dipaksakan justru menurunkan inovasi dan kreativitas, dua faktor penting dalam ekonomi berbasis pengetahuan. Yaitu pembangunan yang berkelanjutan hanya bisa tercapai jika masyarakat bekerja secara efisien, sehat, dan seimbang. Jika tidak, pertumbuhan ekonomi mungkin tercapai, tetapi kualitas hidup masyarakat justru stagnan atau bahkan menurun.
Dalam konteks industrial dan ergonomi, produktivitas masyarakat dapat dipahami sebagai hasil dari desain sistem kerja yang efisien yang berakibat pada rendahnya produktivitas baik secara individu atau kolektif. Rendahnya produktivitas bukan selalu disebabkan oleh kurangnya tenaga kerja, melainkan oleh sistem yang dirancang tanpa mempertimbangkan batas kemampuan manusia. Rancangan ekonomi yang hanya menekan output tanpa memperbaiki sistem kerja cenderung menghasilkan kelelahan, bukan efisiensi.
Sistem kerja yang tidak optimal dapat mengakibatkan pada meningkatnya kesalahan operasional, kecelakaan kerja, dan penurunan kualitas output. Ini sering terjadi di sektor industri dan konstruksi, dan kondisi ini menunjukkan bahwa aspek ergonomi, manajemen waktu, dan otomatisasi belum diterapkan secara optimal. Dalam bahasa santai, sistemnya belum engineered properly.
Produktivitas yang tidak berkelanjutan akan menghambat daya saing industri nasional. Tanpa inovasi teknologi dan perbaikan sistem, tenaga kerja akan cepat mengalami burnout, sementara kualitas produksi stagnan. Oleh karena itu, insinyur memiliki peran strategis dalam membentuk sistem yang efektif-produktif, bukan hanya sebagai pelaksana teknis, tetapi sebagai perancang sistem produksi yang efisien, aman, dan manusiawi bagi masyarakat sekitar.